Toxic Relationship: Kenali Ciri-Ciri Hubungan Tidak Sehat Sebelum Terlambat

Pernah merasa harus terus memaklumi sikap pasangan yang menyakitkan karena takut kehilangan? Kenali tanda-tanda toxic relationship, dampaknya terhadap kesehatan mental, dan cara mengambil langkah untuk melindungi dirimu.

HUBUNGAN DAN RELASI

Harry

10/27/20264 min read

Menganggap sikap pasangan yang menyakitkan sebagai sesuatu yang biasa bukan berarti hubunganmu baik-baik saja. Yuk, kenali tanda-tanda toxic relationship, dampaknya terhadap kesehatan mental, dan cara mengambil langkah yang lebih sehat untuk dirimu sendiri.

“Pacarku juga sering memutarbalikkan fakta, tapi aku udah terbiasa.”

“Kalau dia bersikap begitu, mungkin memang aku yang salah. Dia juga udah minta maaf dan janji nggak akan mengulanginya lagi.”

Pernah mendengar percakapan seperti ini, atau justru pernah mengalaminya sendiri? Terkadang, karena terlalu menyayangi pasangan atau takut kehilangan hubungan, seseorang memilih memaklumi perlakuan yang sebenarnya menyakitkan.

Dalam hubungan romantis, setiap orang tentu ingin merasa nyaman, aman, dan dihargai. Hubungan yang sehat membutuhkan usaha dari kedua belah pihak, termasuk saling menghormati, memahami kebutuhan masing-masing, dan bertanggung jawab atas perilaku sendiri. Namun, jika salah satu pihak terus memberikan perlakuan yang menyakiti secara emosional maupun fisik, hubungan tersebut bisa menjadi tidak sehat.

Lalu, apa sebenarnya toxic relationship dan bagaimana cara mengenalinya?

Apa Itu Toxic Relationship?

Toxic relationship merupakan istilah untuk hubungan yang memiliki pola interaksi tidak sehat dan dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan seseorang. Hubungan seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak aman, tertekan, atau terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.

Salah satu hal yang membuat hubungan tidak sehat sulit dikenali adalah ketika perilaku menyakitkan mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Permintaan maaf dan janji untuk berubah juga bisa membuat seseorang berharap bahwa keadaan akan membaik, meskipun perilaku yang sama terus berulang.

Karena itu, penting untuk memahami bahwa konflik dalam hubungan merupakan hal yang wajar, tetapi kekerasan dan perilaku yang merendahkan pasangan bukanlah bagian dari hubungan yang sehat.

Ciri-Ciri Toxic Relationship yang Perlu Dikenali

Menurut pembahasan mengenai kekerasan dalam pacaran yang dirujuk dalam artikel awal Aditi, terdapat tiga bentuk kekerasan yang perlu diwaspadai, yaitu kekerasan verbal dan emosional, seksual, serta fisik.

1. Kekerasan Verbal dan Emosional

Kekerasan verbal dan emosional dapat muncul melalui perkataan atau perilaku yang merendahkan, menyalahkan, mengancam, maupun memanipulasi pasangan. Contohnya, pasangan sering memberikan kata-kata kasar, memutarbalikkan fakta, atau membuatmu merasa bahwa semua masalah dalam hubungan terjadi karena kesalahanmu.

Kekerasan ini terkadang sulit dikenali karena tidak selalu meninggalkan luka fisik. Namun, jika terjadi berulang kali, perilaku tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri dan membuat seseorang meragukan perasaannya sendiri.

2. Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual terjadi ketika seseorang memaksa atau menekan pasangannya untuk melakukan aktivitas seksual yang tidak diinginkan. Tekanan tersebut dapat berupa rayuan yang terus-menerus, janji tertentu, ancaman, atau tindakan yang mengabaikan penolakan pasangan.

Perlu diingat bahwa berada dalam hubungan romantis tidak berarti seseorang wajib menyetujui segala bentuk kontak fisik. Setiap orang tetap berhak menentukan batasan atas tubuhnya sendiri, dan persetujuan harus diberikan secara sukarela.

3. Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik merupakan tindakan yang menyakiti atau membahayakan tubuh pasangan, seperti memukul, menendang, mendorong, atau membenturkan benda ke arah pasangan.

Tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dengan alasan marah, cemburu, atau sedang menghadapi masalah. Jika kamu mengalami kekerasan fisik atau merasa keselamatanmu terancam, prioritaskan keamanan diri dan cari bantuan dari orang tepercaya.

Apa Dampak Toxic Relationship terhadap Kesehatan Mental?

Hubungan yang tidak sehat dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang, terutama ketika ia terus-menerus merasa tertekan atau tidak aman saat bersama pasangan. Beberapa dampak yang mungkin muncul antara lain:

  • Stres dan depresi: konflik yang berulang dan tekanan emosional dapat membuat seseorang merasa lelah secara mental, sedih berkepanjangan, atau kehilangan semangat dalam menjalani aktivitas.

  • Kecemasan dan kepanikan: rasa takut terhadap reaksi pasangan atau kemungkinan terjadinya konflik dapat membuat seseorang terus merasa khawatir.

  • Perubahan suasana hati: tekanan dalam hubungan dapat membuat seseorang lebih mudah sedih, marah, atau merasa kewalahan.

  • Menurunnya kepercayaan diri: perlakuan yang merendahkan dapat membuat seseorang merasa tidak berharga atau meragukan kemampuannya sendiri.

  • Menyalahkan diri sendiri: seseorang mungkin merasa bahwa dirinya selalu menjadi penyebab masalah dan menganggap perlakuan pasangan yang menyakitkan sebagai kesalahannya sendiri.

Dampak tersebut tidak selalu dialami oleh setiap orang dengan cara yang sama. Namun, jika hubungan mulai mengganggu kesejahteraan emosional dan kehidupan sehari-hari, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian.

Apa yang Bisa Dilakukan Saat Berada dalam Toxic Relationship?

Menyadari bahwa hubungan yang dijalani tidak sehat bukanlah hal yang mudah. Ada perasaan sayang, kenangan bersama, dan harapan bahwa pasangan akan berubah. Meski begitu, kamu tetap berhak mempertimbangkan apa yang terbaik bagi dirimu.

1. Evaluasi hubungan yang sedang dijalani. Coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah kamu merasa aman untuk menyampaikan pendapat? Apakah pasangan menghargai batasanmu? Atau justru kamu lebih sering merasa takut, bersalah, dan harus berhati-hati agar tidak memicu pertengkaran?

2. Pertimbangkan langkah yang paling aman untuk dirimu. Setelah memahami situasinya, kamu dapat mempertimbangkan apakah hubungan masih bisa diperbaiki melalui perubahan nyata dari kedua pihak atau perlu diakhiri. Namun, jika terdapat kekerasan, ancaman, atau pemaksaan, keselamatanmu harus menjadi prioritas. Kamu tidak harus bertahan dalam situasi yang membahayakan.

3. Kembali fokus pada diri sendiri. Berikan ruang untuk mengenali kebutuhan dan perasaanmu, melakukan aktivitas yang disukai, serta membangun kembali hubungan dengan orang-orang yang mendukungmu. Kamu tidak perlu terburu-buru memulihkan diri atau memaksakan diri untuk segera merasa baik-baik saja.

4. Cari bantuan profesional jika diperlukan. Jika kamu masih merasa kesulitan memahami situasi atau menentukan langkah selanjutnya, berkonsultasi dengan psikolog dapat membantumu mengeksplorasi perasaan dan melihat permasalahan dari perspektif yang lebih luas.

Tidak Harus Menghadapi Semuanya Sendirian

Hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah mengalami konflik. Namun, kedua pihak tetap perlu saling menghargai, menjaga batasan, dan bertanggung jawab atas perilakunya masing-masing.

Jika kamu mulai terbiasa menerima perlakuan yang menyakitkan, cobalah berhenti sejenak dan melihat kembali bagaimana hubungan tersebut memengaruhi dirimu. Menyayangi pasangan tidak berarti kamu harus mengabaikan kebutuhan dan keselamatan diri sendiri.

Kamu berhak berada dalam hubungan yang membuatmu merasa aman, dihargai, dan didengarkan. Jika kamu membutuhkan bantuan untuk memahami perasaan atau situasi yang sedang dihadapi, Aditi siap menemanimu melalui layanan konseling bersama psikolog profesional.

Referensi

  • Forth, A., et al. (2021). Toxic Relationships: The Experiences and Effects of Psychopathy in Romantic Relationships. International Journal of Offender Therapy and Comparative Criminology, 66(15).

  • Julianto, V., Cahayani, R. A., Sukmawati, S., & Aji, E. S. R. (2020). Hubungan antara Harapan dan Harga Diri terhadap Kebahagiaan pada Orang yang Mengalami Toxic Relationship dengan Kesehatan Psikologis. Jurnal Psikologi Integratif, 8(1).