Terlihat Baik-Baik Saja, Padahal Sedang Tertekan? Kenali Tandanya

Tidak semua tekanan terlihat dari luar. Seseorang bisa tetap tersenyum, produktif, dan menjalani aktivitas seperti biasa, padahal sedang berusaha keras menghadapi tekanan dalam dirinya.

KESEHATAN MENTAL

Harry

10/28/20264 min read

“Kayaknya hidup kamu baik-baik aja, ya.”

“Iya, kok. Aku baik-baik aja.”

Padahal, belum tentu.

Ada kalanya seseorang tetap pergi kuliah atau bekerja, menyelesaikan tugas, bertemu teman, bahkan masih bisa bercanda seperti biasa. Dari luar, semuanya terlihat berjalan dengan baik. Namun, di balik itu, bisa saja ada tekanan, rasa cemas, atau keraguan terhadap diri sendiri yang sedang berusaha disembunyikan.

Hal seperti ini cukup sering ditemukan pada seseorang yang berada di lingkungan dengan tuntutan tinggi, terutama mahasiswa. Keinginan untuk berprestasi, memenuhi ekspektasi, mendapatkan pengakuan, hingga terlihat mampu menghadapi semuanya dapat membuat seseorang merasa harus terus menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Padahal, apa yang terlihat dari luar tidak selalu menggambarkan apa yang sedang terjadi di dalam diri seseorang.

Ketika Tekanan Tidak Terlihat

Pernah melihat teman yang sepertinya selalu berhasil?

Nilainya bagus, aktif dalam berbagai kegiatan, punya banyak teman, sering membagikan aktivitas menyenangkan di media sosial, dan terlihat mampu menjalani semuanya dengan baik.

Tanpa disadari, kita bisa membandingkan kehidupan kita dengan apa yang mereka tunjukkan. “Kok dia bisa ya?” atau “Kenapa aku nggak bisa seperti dia?”

Masalahnya, media sosial sering kali hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Kita melihat pencapaian, liburan, pertemanan, atau momen bahagia mereka, tetapi tidak melihat berapa banyak tekanan, kegagalan, atau rasa lelah yang mungkin mereka alami di baliknya.

Perbandingan seperti ini dapat membuat seseorang merasa tertinggal, tidak cukup baik, atau takut dianggap gagal.

Apa Itu Duck Syndrome?

Fenomena ketika seseorang terlihat tenang dan mampu menjalani kehidupannya dengan baik, padahal sebenarnya sedang berusaha keras menghadapi berbagai tekanan di baliknya dikenal sebagai duck syndrome.

Istilah ini diibaratkan seperti seekor bebek yang terlihat tenang ketika berenang di permukaan air. Dari luar, gerakannya tampak santai. Namun, di bawah permukaan, kakinya terus bergerak agar tetap bisa mengapung.

Begitu pula seseorang yang mengalami fenomena ini. Mereka mungkin terlihat baik-baik saja, produktif, dan mampu menyelesaikan berbagai tuntutan. Namun, di baliknya, mereka bisa saja sedang mengalami tekanan, kecemasan, keraguan terhadap diri sendiri, atau merasa kewalahan.

Duck syndrome banyak dibahas dalam konteks mahasiswa dan lingkungan yang memiliki tuntutan tinggi. Namun, fenomena serupa juga dapat terjadi pada siapa saja yang merasa harus terus terlihat mampu di hadapan orang lain.

Perlu diingat, duck syndrome bukan merupakan diagnosis atau gangguan mental secara formal. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman ketika seseorang berusaha mempertahankan kesan bahwa dirinya baik-baik saja, meskipun sedang menghadapi berbagai kesulitan.

Apa yang Bisa Membuat Seseorang Mengalaminya?

Ada berbagai faktor yang dapat membuat seseorang merasa harus selalu terlihat baik-baik saja.

1. Tuntutan akademik atau pekerjaan

Beban tugas, target, persaingan, dan keinginan untuk mendapatkan hasil terbaik dapat membuat seseorang terus memaksakan diri untuk memenuhi ekspektasi.

2. Tekanan sosial

Keinginan untuk diterima, mendapatkan pengakuan, atau tidak ingin dianggap berbeda dapat membuat seseorang menyembunyikan kesulitan yang sedang dialami.

3. Media sosial

Melihat pencapaian orang lain secara terus-menerus dapat memicu kebiasaan membandingkan diri. Ketika hanya melihat sisi positif kehidupan orang lain, kehidupan sendiri bisa terasa jauh lebih buruk.

4. Ekspektasi keluarga

Pola asuh yang terlalu menuntut kesempurnaan atau ekspektasi keluarga yang tinggi juga dapat membuat seseorang merasa harus selalu berhasil dan tidak boleh menunjukkan kelemahan.

Apa Saja Tandanya?

Tidak semua orang menunjukkan tanda yang sama. Namun, beberapa hal berikut dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang menghadapi tekanan yang cukup besar:

  • Sering membandingkan diri dengan orang lain. Kamu merasa pencapaian orang lain selalu lebih baik dan kehidupan mereka terlihat jauh lebih mudah.

  • Merasa seperti sebuah kegagalan. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, kamu langsung menganggap bahwa dirimu tidak cukup baik.

  • Takut mendapatkan kritik. Ada kekhawatiran berlebihan bahwa orang lain akan melihat kekurangan atau menganggapmu tidak mampu.

  • Merasa orang lain lebih baik darimu. Pencapaian orang lain justru membuatmu semakin meragukan kemampuan diri sendiri.

  • Sulit mengakui bahwa sedang kewalahan. Kamu merasa harus tetap terlihat kuat karena takut dianggap tidak mampu menghadapi masalah sendiri.

Jika tekanan tersebut terus berlangsung dan tidak dikelola dengan baik, seseorang dapat mengalami masalah kesehatan mental seperti kecemasan maupun depresi.

Bagaimana Cara Menghadapinya?

Terlihat mampu bukan berarti kamu harus selalu memaksakan diri. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu mengelola tekanan dengan lebih sehat.

1. Atur waktu sesuai prioritas

Tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus. Buat prioritas dan berikan waktu yang cukup untuk setiap tanggung jawab agar kamu tidak terus merasa dikejar oleh berbagai tuntutan.

2. Kenali cara belajar atau bekerja yang paling efektif

Memaksakan diri bekerja atau belajar dalam waktu yang panjang belum tentu membuat hasilnya lebih baik. Temukan metode yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuanmu.

3. Berikan waktu untuk diri sendiri

Melakukan aktivitas yang menyenangkan, beristirahat, berolahraga, tidur yang cukup, menjaga pola makan, dan mengurangi konsumsi kafein berlebihan dapat membantu menjaga kondisi fisik dan emosional.

4. Belajar berbaik hati kepada diri sendiri

Tidak semua kegagalan berarti kamu tidak mampu. Cobalah berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang sama seperti ketika kamu memberikan dukungan kepada orang yang kamu sayangi.

Kamu juga bisa menuliskan hal-hal yang sedang dirasakan atau membuat afirmasi positif untuk membantu mengenali dan mengelola pikiran yang muncul.

5. Jangan ragu untuk bercerita

Ketika tekanan mulai terasa terlalu berat, cobalah membicarakannya dengan orang yang dipercaya. Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Untuk mahasiswa, kamu juga dapat memanfaatkan layanan konseling di kampus, berdiskusi dengan dosen, atau mencari bantuan akademik ketika mengalami kesulitan dalam proses belajar.

6. Buat target yang realistis

Memiliki tujuan dapat membantu menjaga arah, tetapi pastikan tujuan tersebut tetap sesuai dengan kemampuan dan kondisi diri. Target yang terlalu tinggi justru dapat membuat tekanan semakin besar.

Tidak Harus Selalu Terlihat Baik-Baik Saja

Terkadang, kita terlalu sibuk menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja sampai lupa bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya, aku baik-baik saja nggak?”

Kamu tidak harus selalu terlihat kuat. Tidak apa-apa merasa lelah, mengalami kegagalan, meminta bantuan, atau mengakui bahwa kamu sedang kewalahan. Menjaga kesehatan mental bukan tentang bagaimana caranya terlihat mampu menghadapi semuanya, tetapi tentang bagaimana kamu bisa memahami kondisi diri dan menemukan cara yang sehat untuk menjalaninya.

Kalau tekanan yang kamu rasakan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan dengan orang lain, proses belajar atau bekerja, atau membuatmu semakin sulit mengelola diri, jangan ragu untuk mencari bantuan dari profesional.

Karena terkadang, yang kamu butuhkan bukan terus berusaha terlihat baik-baik saja, tetapi ruang untuk benar-benar merasa baik-baik saja.

Referensi