Kenapa Pekerjaan Terasa Semakin Melelahkan? Bisa Jadi Kamu Mengalami Burnout
Tuntutan pekerjaan, konflik di lingkungan kerja, dan ekspektasi yang terlalu tinggi dapat memengaruhi kondisi fisik maupun emosional. Pahami gejala burnout dan langkah untuk mengelolanya.
KESEHATAN MENTAL
Harry
11/2/20264 min read


“Rasanya akhir-akhir ini pekerjaan nggak ada habisnya.”
“Sudah berusaha menyelesaikan semuanya, tapi justru semakin merasa lelah.”
Pernah merasakan hal serupa?
Awalnya, pekerjaan mungkin terasa menyenangkan dan menjadi kesempatan untuk berkembang. Namun, seiring berjalannya waktu, tuntutan yang semakin tinggi, perubahan lingkungan kerja, hingga tekanan dari atasan bisa membuat semuanya terasa berbeda.
Kamu mulai kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, merasa tidak puas dengan hasil pekerjaan, bahkan kondisi fisik ikut menurun karena terus merasa kelelahan.
Jika berlangsung dalam waktu yang lama, bisa jadi kamu sedang mengalami burnout.
Apa Itu Burnout?
Burnout merupakan kondisi kelelahan psikologis yang berkaitan dengan paparan stres interpersonal berkepanjangan dalam lingkungan pekerjaan (Rossi, Perrewé, & Sauter, 2006).
Kondisi ini tidak hanya membuat seseorang merasa lelah secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional dan cara seseorang memandang pekerjaannya.
Menurut Maslach (2018), burnout memiliki tiga dimensi utama yang dapat dialami seseorang, yaitu:
1. Kelelahan (Exhaustion)
Kelelahan menjadi salah satu dimensi utama burnout. Kondisi ini dapat dirasakan secara fisik, emosional, maupun kognitif.
Seseorang mungkin merasa energinya terus terkuras, sulit berkonsentrasi, kehilangan semangat, dan kesulitan menyelesaikan pekerjaan secara efektif. Bahkan, waktu istirahat pun terkadang terasa belum cukup untuk mengembalikan energinya.
2. Sinisme (Cynicism)
Sinisme atau depersonalisasi terjadi ketika seseorang mulai kehilangan keterlibatan emosional dengan pekerjaannya.
Pekerjaan yang sebelumnya terasa menyenangkan bisa mulai dianggap sebagai beban. Seseorang juga dapat menjadi lebih mudah bersikap negatif, menjaga jarak dari lingkungan kerja, atau kehilangan rasa bangga terhadap apa yang dikerjakannya.
Kondisi ini dapat berkaitan dengan beban pekerjaan berlebihan, konflik, ketidakadilan, hingga kurangnya keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
3. Penurunan Efikasi Diri (Inefficacy)
Dimensi ini berkaitan dengan munculnya perasaan tidak kompeten atau tidak mampu menjalankan pekerjaan dengan baik.
Seseorang mungkin mulai meragukan kemampuannya sendiri, merasa hasil pekerjaannya tidak memuaskan, hingga khawatir tidak mampu menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan.
Padahal, perasaan tersebut belum tentu menggambarkan kemampuan sebenarnya. Tekanan yang berkepanjangan dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Apa Dampak Burnout terhadap Pekerjaan?
Ketiga dimensi burnout dapat muncul dengan intensitas yang berbeda pada setiap orang. Ada yang lebih merasakan kelelahan, sementara yang lain mungkin lebih banyak mengalami sinisme atau penurunan rasa percaya diri terhadap kemampuannya.
Jika tidak dikelola dengan baik, burnout dapat memengaruhi kepuasan kerja, produktivitas, hingga komitmen seseorang terhadap pekerjaannya (Fisher, 1985; Golembiewski et al., 1986; Miller et al., 1990).
Seseorang yang mengalaminya mungkin mulai kehilangan ketertarikan terhadap pekerjaan, kesulitan mempertahankan performa, atau merasa semakin jauh dari tujuan karier yang sebelumnya ingin dicapai.
Karena itu, penting untuk mengenali perubahan yang terjadi pada diri sendiri sebelum tekanan pekerjaan semakin mengganggu keseharian.
Bagaimana Cara Mengatasi Burnout?
Burnout tidak selalu bisa diatasi hanya dengan mengambil waktu istirahat sebentar. Diperlukan upaya untuk memahami sumber tekanan dan membangun kebiasaan yang lebih sehat.
Monique Valcour (2016) dalam Harvard Business Review menjelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi burnout.
1. Prioritaskan Self-Care
Menjaga kesehatan fisik dan emosional merupakan bagian penting dalam mengelola tekanan pekerjaan.
Mulailah dengan membangun kebiasaan tidur yang cukup, menjaga asupan makanan, berolahraga, dan meluangkan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan.
Kamu juga bisa mencoba meditasi, journaling, berjalan-jalan di alam terbuka, atau melakukan kegiatan lain yang membantu mengembalikan energi.
2. Ubah Perspektif dalam Menghadapi Masalah
Cobalah melihat kembali hal-hal yang menjadi sumber tekananmu.
Jika pekerjaan terasa terlalu menumpuk, pertimbangkan untuk membagi tanggung jawab atau berdiskusi mengenai pembagian tugas dengan tim. Jika hubungan di lingkungan kerja menjadi sumber stres, bangun koneksi dengan orang-orang yang dapat memberikan dukungan positif.
Ketika merasa kurang mendapatkan pengakuan atas pekerjaan, kamu juga bisa mulai mengomunikasikan kontribusi dan pencapaianmu secara lebih terbuka.
Mengubah perspektif bukan berarti mengabaikan masalah, tetapi mencari pendekatan yang lebih adaptif untuk menghadapinya.
3. Sesuaikan Ekspektasi dengan Kemampuan
Memiliki target dan keinginan untuk berkembang tentu merupakan hal yang baik. Namun, ekspektasi yang terlalu tinggi tanpa mempertimbangkan kapasitas diri justru dapat menambah tekanan.
Cobalah mengevaluasi kembali target pekerjaan yang sedang dijalani. Jika beban yang diberikan sudah sulit dikelola, komunikasikan kondisi tersebut dengan atasan, kolega, atau pihak terkait.
Menyesuaikan ekspektasi bukan berarti menurunkan kualitas diri, melainkan membangun ritme kerja yang lebih realistis dan berkelanjutan.
4. Bangun Koneksi yang Suportif
Jangan merasa harus menghadapi seluruh tekanan pekerjaan sendirian.
Memiliki mentor, coach, rekan kerja, atau orang terpercaya untuk berdiskusi dapat membantu memberikan perspektif baru terhadap permasalahan yang sedang dihadapi.
Kamu juga bisa membicarakan perkembangan karier, tujuan profesional, serta peluang yang ingin dicapai. Dukungan sosial yang sehat dapat membantu seseorang merasa lebih didengar dan tidak sendirian dalam menghadapi tantangan pekerjaan.
Jika kelelahan dan tekanan yang dirasakan terus berlanjut hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.
Pekerjaan Penting, tetapi Kondisi Dirimu Juga Penting
Dalam perjalanan karier, ada kalanya kita perlu bekerja lebih keras untuk mencapai sesuatu. Namun, bukan berarti kita harus terus mengorbankan kondisi fisik dan emosional demi memenuhi setiap tuntutan.
Merasa lelah bukan berarti kamu tidak kompeten. Mengambil jeda bukan berarti kamu kehilangan ambisi. Dan meminta bantuan bukan berarti kamu tidak mampu menyelesaikan tanggung jawabmu.
Cobalah untuk lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada dirimu. Kenali batas kemampuan, pahami sumber tekanan, dan berikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Karena pada akhirnya, keberhasilan dalam pekerjaan bukan hanya tentang seberapa banyak hal yang berhasil kamu selesaikan, tetapi juga bagaimana kamu bisa terus bertumbuh tanpa mengabaikan kesejahteraan dirimu sendiri.
Referensi
Maslach, C. (2018). Burnout: A Multidimensional Perspective. In Professional Burnout (pp. 19–32). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315227979-3
Miller, K. I., Ellis, B. H., Zook, E. G., & Lyles, J. S. (1990). An Integrated Model of Communication, Stress, and Burnout in the Workplace. Communication Research, 17(3), 300–326.
Rossi, A. M., Perrewé, P. L., & Sauter, S. L. (2006). Stress and Quality of Working Life: Current Perspectives in Occupational Health. IAP-Information Age Publishing, Inc. https://books.google.co.id/books?id=LfonDwAAQBAJ
Valcour, M. (2016, November). Beating Burnout. Harvard Business Review. https://hbr.org/2016/11/beating-burnout
Alamat
Komplek Perkantoran, Jl. Kalibata Tengah No.35 C, RT.11/RW.7, Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12740
Kontak
+62 812-1290-9085 (Kalibata)
+62 821-2300-1892 (Cempaka Putih)
aditipsychocenter@gmail.com
© 2026 Aditi Psychological Center.
Tuangkan, Ekspersikan, Pulihkan.
